Selasa, 15 Juni 2010

Opini


Krisis Asia dan Eropa:
Kegagalan Sistem Kapitalisme-Neoliberal

(Sebuah tanggapan atas opini Alder H Manurung di harian Bisnis Indonesia, Kamis, 10 Juni 2010)

Nasi telah menjadi bubur, Krisis terjadi dimana-mana yang berawal dari krisis Asia tahun 1997 dan sekarang yang terjadi adalah krisis negara-negara maju khususnya Eropa yang baru-baru ini merasakan bagaimana dampak dari suatu sistem nakal yang disebut sistem kapitalisme-neoliberal.

Logika kapitalisme-neoliberal adalah profit dimana mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan dampak besar yang menjadi ancaman bagi negara-negara yang tidak mempunyai modal yang besar. Sistem tersebut tidak mengenal regulasi negara yang dibuat oleh pemerintah karena neoliberalisme memberlakukan perdagangan bebas, investasi tanpa hambatan dan tidak mengenal campur-tangan pemerintah. Pengusaha bebas untuk berbuat semaunya dan membangun zona bebas hambatan untuk kepentingan pengusaha asing dan negaranya. Tapi kenyatannya, pasar uang dan pasar modal berjatuhan akibat sistem tersebut.

Jatuhnya Pasar Uang dan Pasar Modal

Beberapa saat setelah informasi kebangkrutan Lehman Brothers, pasar keuangan dunia mengalami terjun bebas di tingkat terendah. Beberapa bank besar yang collaps dan runtuhnya berbagai bank investasi lainnya di Amerika Serikat segera memicu gelombang kepanikan di berbagai pusat keuangan seluruh dunia. Pasar modal di Amerika Serikat, Eropa dan Asia segera mengalami panic selling yang mengakibatkan jatuhnya indeks harga saham pada setiap pasar modal. Bursa saham di mana-mana terjun bebas ke jurang yang dalam.

Pasar modal London mencatat rekor kejatuhan terburuk, dalam sehari yang mencapai penurunan 8%. Sedangkan Jerman dan Prancis masing-masing ditampar dengan kejatuhan pasar modal sebesar 7% dan 9%. Pasar modal emerging market seperti Rusia, Argentina dan Brazil juga mengalami keterpurukan yang sangat buruk yaitu 15%, 11% dan 15%. Sejak awal 2008, bursa saham China anjlok 57%, India 52%, Indonesia 41% (sebelum kegiatannya dihentikan untuk sementara), dan zona Eropa 37%.

Sementara pasar surat utang terpuruk, mata uang negara berkembang melemah dan harga komoditas anjlok, apalagi setelah para spekulator komoditas minyak menilai bahwa resesi ekonomi akan mengurangi konsumsi energi dunia.

Di AS, bursa saham Wall Street terus melorot. Dow Jones sebagai episentrum pasar modal dunia jatuh. Angka indeks Dow Jones menunjukkan angka terburuknya dalam empat tahun terakhir yaitu berada di bawah angka 10.000.

Dalam rangka mengantispasi krisis keuangan tersebut, tujuh bank sentral (termasuk US Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England dan Bank of Canada) memangkas suku bunganya 0,5%. Ini merupakan yang pertama kalinya kebijakan suku bunga bank sentral dilakukan secara bersamaan dalam skala yang besar.

Berdasarkan fakta dan realita yang terjadi saat ini, jelas sekali bahwa drama krisis keuangan memasuki tingkat keterpurukan yang amat dalam, dan karena itu dapat dikatakan bahwa krisis finansial Amerika saat ini, jauh lebih parah daripada krisis Asia di tahun 1997-1998 yang lalu. Dampak krisis saat ini demikian terasa mengenaskan keuangan global. Lagi pula, sewaktu krismon Asia, setidaknya ada 'surga aman' atau 'safe heaven' bagi para investor global, yaitu di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Tetapi kini, semua pasar modal rontok. Semua investor panik.

Karena itu, seluruh pengamat ekonomi dunia sepakat bahwa Guncangan ekonomi akibat badai keuangan yang melanda Amerika merupakan guncangan yang terparah setelah Great Depresion pada tahun 1930. Bahkan IMF menilai guncangan sektor finansial kali ini merupakan yang terparah sejak era 1930-an.

Robert Gilpin, pengamat ekonomi politik Amerika menegasikan bahwa kapitalisme global bukan sekedar berfungsi bagi diri pemegang kapital tetapi juga bagaimana dalam berfungsi, sistem itu juga memberikan tempat yang layak bagi negara-negara dan terlebih bagi kawula negara-negara yang secara ekonomis lemah. Giplin menjelaskan bagaimana bahaya ancaman dari sistem kapitalisme-neoliberal saat tidak sesuai dengan negara-negara yang secara ekonomi lemah.

Melihat krisis Asia dan Eropa, terlihat secara nyata bagaimana kendali sistem kapitalisme-neoliberal merusak semua sendi perekonomian dunia. Tidak hanya melihat bagaimana dampaknya terhadap negara-negara berekonomi lemah, bahkan negara yang kuat pun di segi ekonomi tetap mengalami dan merasakan dampak yang sangat merugikan.

Terus Terjadi
Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sejenis ini pernah melanda di hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Krisis demi krisis ekonomi terus berulang, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, 1998 – 2001, dan 2007 hingga saat ini krisis semakin mengkhawatirkan akibat tragedi finansial di Amerika Serikat.

Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time of Present Day, menguraikan sejarah kronologi secara komprehensif. Menurut mereka, sepanjang abad 20 telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan bahwa secara rata-rata, setiap 5 tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.

Pada tahun 1907 krisis perbankan Internasional dimulai di New York, setelah beberapa dekade sebelumnya yakni mulai tahun 1860-1921 terjadi peningkatan hebat jumlah bank di Amerika s/d 19 kali lipat. Selanjutnya, tahun 1920 terjadi depresi ekonomi di Jepang. Kemudian pada tahun 1922 – 1923 German mengalami krisis dengan hyper inflasi yang tinggi. Karena takut mata uang menurun nilainya, gaji dibayar sampai dua kali dalam sehari. Selanjutnya, pada tahun 1927 krisis keuangan melanda Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan.

Bukti-bukti di atas secara gamblang menjelaskan bagaimana kenyataan kegagalan sistem kapitalisme-neoliberal jika digunakan. Apapu negaranya sistem ini tak dapat memberikan suasana segar bagi perekonomian dunia. Kapitalisme-neliberal mengedepankan individualisme dan kompetisi yang ganas.

Muh Fitrah Yunus
Peneliti Institute for Global Justice_IGJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buat Cappucinomu Kita Berdiskusi