Selasa, 05 April 2011

Buletin IGJ Edisi IV, Desember 2010

Kapitalisme Ambruk ?



Kapitalisme Ambruk ?
2010 ; Satu persatu negara eropa digilir oleh krisis. Spanyol yang merupakan ekonomi ke lima terbesar di Europa Union dilanda krisis hebat dalam 2010. Sebelumnya Yunani, Irlandia, Portugal dihantam krisis dan kemungkinan berikutnya Belgia. Utang, bailout skala besar dikucurkan oleh negara untuk sektor swasta dengan mengorbankan anggaran publik, membuktikan satu hal bahwa kapitalisme neoliberalisme telah kehilangan kredibilitasnya . 
 
Ekonomi mengalami stagnasi yang mendalam, ekonomi Spanyol bergerak kearah pertumbuhan negatif,  tumbuh 0,1 persen pada kuartal pertama tahun 2010 dan 0,2 persen di kwartal kedua tetapi kemudian terhenti dengan nol pertumbuhan pada kwartal ketiga. Keadaan keseluruhan negara di Eropa menggambarkan keadaan yang sama dan semakin memburuk. 
 
Defisit anggaran negara terus membengkak yang memaksa negara-negara tersebut memangkas seluruh anggaran publik, kesehatan, jaminan hari tua, jaminan orang cacat, dan lain sebagainya. Menteri Keuangan Belgia Didier Reynders, akhir pekan (4/12), menyebut dana penyelamatan tetap Uni Eropa harus lebih besar dari yang tersedia saat ini, senilai 750 miliar euro atau setara USD 989 miliar (kontan, 12/2010). 
 
Akibatnya kantor-kantor pemerintahan dan parlemen selalu diserbu oleh ratusan ribu domonstran, mereka yang berasal dari kaum buruh, pengangguran dan para pensiunan. Mereka menolak cara-cara pemerintah yang terus mensubsidi para pengusaha pada satu sisi sementara memotong anggaran publik pada sisi yang lain. Demostrasi besar sepanjang tahun 2010 di Eropa selalu berakhir dengan kerusuhan.
 
Upaya mengatasi krisis dengan melakukan berbagai perundingan internasional gagal meraih konsensus yang diharapkan. Pertemuan G8, G20, ASEM, WTO, pertemuan perubahan iklim UNFCCC, diselenggarakan untuk membuka lebar jalan investasi luar negeri, liberalisasi perdagangan  dan deregulasi keuangan.  Namun seluruh perundingan seperti serimonial semata dan tidak dapat meraih konsensus dikarenakan benturan kepentingan yang semakin kencang akibat perlawanan China, India, Brasil yang menolak dikorbankan sebagai tumbal krisis. 
 
Hingga saat ini krisis Eropa dan  AS menunjukkan gejala semakin parah. Tingkat pengangguran di AS berkisar antara 9-10 %.  Pada Oktober lalu, tingkat pengangguran Eropa mencapai 10,1 persen. Menurut Eurostat, angka ini merupakan level tertinggi sejak Juli 1998. Data yang sama menunjukkan, jumlah warga Eropa yang tidak memiliki pekerjaan naik 80.000 orang pada Oktober menjadi 15,95 juta orang. Sementara itu, di 27 negara Uni Eropa, kenaikannya mencapai 84.000 menjadi 23,15 juta orang (kompas, 12/2010). Upaya pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja dengan membantu pemilik modal  besar ternyata menuai kegagalan. 
 
Padahal hingga saat ini negara eropa telah menyalurkan dana sangat besar untuk bailout sektor swasta. Irlandia memutuskan untuk menyelamatkan Anglo Irish Bank dengan bailout hingga 34,3 miliar euro atau setara dengan USD 46,6 miliar. Gelontoran dana untuk menyelamatkan bank itu harus ditebus dengan lobang besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Irlandia hingga 32% pada tahun 2010. 
 
Namun dana-dana bailout tidak digunakan untuk memulihkan ekonomi, investasi dan kesempatan kerja. Para pemilik modal di negara-negara maju justru melarikan uangnya ke negara-negara berkembang dan masuk sebagai uang panas ke  dalam bursa-bursa keuangan di seluruh dunia. Mengapa demikian ? ini dikarenakan dunia mengalami krisis overproduksi, overinvestment akan tetapi underconsumtion. Atau secara sederhana merupakan kadaan berlimpahnya barang dan jasa namun sebagian besar rakyat tidak punya daya beli. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya perang  mata uang (currency war) dikarena pemilik modal lebih memilih pasar keuangan, melakukan spekulasi dan perdagangan aset derivatif lainnya. 
 
Sistem kapitalisme berada pada puncak krisis.  Kekacauan ekonomi tidak hanya akan terjadi di negara-negara maju, namun juga negara-negara berkembang yang berada dalam sistem  kapitalisme. Krisis ini akan memicu semakin ganasnya eksploitasi ekonomi terhadap kaum buruh, tani dan masyarakat miskin khususnya di negara-negara berkembang dan negara miskin. Jika tidak segera merubah haluan, maka seluruh negara yang berada dalam mata rantai sistem kapitalisme global akan ikut ambruk dalam krisis yang sama.  ***
 
Redaksi

Selasa, 22 Juni 2010

News



30 Investor China lirik Indonesia


Sekitar 30 pengusaha asal China tertarik berinvestrasi dan menjalin kerja sama bisnis degan pengusaha Indonesia, terutama saektor infrastruktur, kelistrikan, dan mesin, asal pemerintah Indonesia memberi kemudahan dalam proses investasi.

Para pengusaha yang datang dari berbagai perusahaan di China tersebut, bertemu langsung dengan Gita Wirjawan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal [BKPM], belum lama ini di paviliun Indonesia dalam ajang World Expo 2010 yang berlangsung di Shanghai, China, pada 1 Mei-31 Oktober.

Widharma Raya Dipodiputro, Direktur Paviliun Indonesia, yang mengikuti pertemuan bisnis tersebut, mengatakan bahwa para pengusaha dari China itu mengeluhkan tentang proses investasi di Indonesia masih lambat, dan berbelit. Untuk itu mereka ingin kejelasan dan kemudahan dalam bisnis.

“Ketika itu Kepala BKPM langsung menjawab bahwa pemerintah Indonesia membuka peluang bagi pengusaha luar untuk berinvetasi, dan kerja sama bisnis dengan pengusaha Indonesia. Berbagai keluhan tersebut diperbaiki dan diperhatikan. Bahkan saat ini sudah ada National Single Window,” kata Widharma.

Para pengusaha China tersebut ada yang datang dari perusahaan China State Grid bergerak di bidang kelistrikan, China Harbour (pelabuhan), dan pengusaha dari TBEA bergerak juga di bidang listrik.

Menurut Widharma, banyak pengusaha yang tengah mencari investasi di luar China, yang penting ada kepastian hukum, dan peraturannya jelas.

“Kami dari paviliun Indonesia memfasilitasi pertemuan bisnis antara pengusaha China dengan pejabat dari BKPM yang juga diikuti dengan Gubernur Jawa Barat, Gubernur Riau, dan Wagub Kalimantan Timur. Masing-masing gubernur saat itu mempresentasikan potensi dan peluang bisnis yang ada di daerah masing-masing,” tambahnya.

Pada 19 Juli nanti, lanjutnya, juga akan difasilitasi pertemuan bisnis antara Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dengan sejumlah asosiasi dan pengusaha perikanan China.

Sementara itu Pratito Soeharyo, Wakil Direktur Paviliun Indonesia, menambahkan dalam pertemuan tersebut terlihat antusiasme para pengusaha China untuk berinvestasi di Indonesia. “Mereka memperoleh banyak informasi tentang potensi di negeri kita, diantaranya dalam bidang infrastruktur, mesin, dan pembangunan pabrik di Indonesia,” katanya.

Pratito menuturkan pemerintah bekerjasama dengan para mitra paviliun Indonesia di World Expo 2010 Shanghai ini, menyelenggarakan berbagai forum bisnis untuk meningkatkan potensi tourism, trade, dan investment (TTI) kepada kalangan usaha dari negara lain, terutama China.

Menurut dia, partisipasi Indonesia di World Expo 2010 ini, merupakan kerja sama lintas kementerian dan didukung oleh para mitra dari sejumlah perusahaan, seperti PT Astra International, PT Garuda Indonesia, Medco, Adaro, Indofood, Artha Graha, Gajah Tunggal, Chandra Asri, Pertamina, Bank BNI, Lippo Group, dan Bank Mandiri.

Selain memamerkan keragaman budaya dan kearifan bangsa Indonesia, Paviliun Indonesia juga menjadi wadah bertemunya para pengusaha China dengan para mitra paviliun Indonesia, dan kementerian terkait yang berpotensi perdagangan, pariwisata, dan investasi di Indonesia.

Posted by:
Muh Fitrah Yunus
Institute for Global Justice

http://web.bisnis.com/sektor-riil/1id188560.html

Selasa, 15 Juni 2010

Opini


Krisis Asia dan Eropa:
Kegagalan Sistem Kapitalisme-Neoliberal

(Sebuah tanggapan atas opini Alder H Manurung di harian Bisnis Indonesia, Kamis, 10 Juni 2010)

Nasi telah menjadi bubur, Krisis terjadi dimana-mana yang berawal dari krisis Asia tahun 1997 dan sekarang yang terjadi adalah krisis negara-negara maju khususnya Eropa yang baru-baru ini merasakan bagaimana dampak dari suatu sistem nakal yang disebut sistem kapitalisme-neoliberal.

Logika kapitalisme-neoliberal adalah profit dimana mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan dampak besar yang menjadi ancaman bagi negara-negara yang tidak mempunyai modal yang besar. Sistem tersebut tidak mengenal regulasi negara yang dibuat oleh pemerintah karena neoliberalisme memberlakukan perdagangan bebas, investasi tanpa hambatan dan tidak mengenal campur-tangan pemerintah. Pengusaha bebas untuk berbuat semaunya dan membangun zona bebas hambatan untuk kepentingan pengusaha asing dan negaranya. Tapi kenyatannya, pasar uang dan pasar modal berjatuhan akibat sistem tersebut.

Jatuhnya Pasar Uang dan Pasar Modal

Beberapa saat setelah informasi kebangkrutan Lehman Brothers, pasar keuangan dunia mengalami terjun bebas di tingkat terendah. Beberapa bank besar yang collaps dan runtuhnya berbagai bank investasi lainnya di Amerika Serikat segera memicu gelombang kepanikan di berbagai pusat keuangan seluruh dunia. Pasar modal di Amerika Serikat, Eropa dan Asia segera mengalami panic selling yang mengakibatkan jatuhnya indeks harga saham pada setiap pasar modal. Bursa saham di mana-mana terjun bebas ke jurang yang dalam.

Pasar modal London mencatat rekor kejatuhan terburuk, dalam sehari yang mencapai penurunan 8%. Sedangkan Jerman dan Prancis masing-masing ditampar dengan kejatuhan pasar modal sebesar 7% dan 9%. Pasar modal emerging market seperti Rusia, Argentina dan Brazil juga mengalami keterpurukan yang sangat buruk yaitu 15%, 11% dan 15%. Sejak awal 2008, bursa saham China anjlok 57%, India 52%, Indonesia 41% (sebelum kegiatannya dihentikan untuk sementara), dan zona Eropa 37%.

Sementara pasar surat utang terpuruk, mata uang negara berkembang melemah dan harga komoditas anjlok, apalagi setelah para spekulator komoditas minyak menilai bahwa resesi ekonomi akan mengurangi konsumsi energi dunia.

Di AS, bursa saham Wall Street terus melorot. Dow Jones sebagai episentrum pasar modal dunia jatuh. Angka indeks Dow Jones menunjukkan angka terburuknya dalam empat tahun terakhir yaitu berada di bawah angka 10.000.

Dalam rangka mengantispasi krisis keuangan tersebut, tujuh bank sentral (termasuk US Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England dan Bank of Canada) memangkas suku bunganya 0,5%. Ini merupakan yang pertama kalinya kebijakan suku bunga bank sentral dilakukan secara bersamaan dalam skala yang besar.

Berdasarkan fakta dan realita yang terjadi saat ini, jelas sekali bahwa drama krisis keuangan memasuki tingkat keterpurukan yang amat dalam, dan karena itu dapat dikatakan bahwa krisis finansial Amerika saat ini, jauh lebih parah daripada krisis Asia di tahun 1997-1998 yang lalu. Dampak krisis saat ini demikian terasa mengenaskan keuangan global. Lagi pula, sewaktu krismon Asia, setidaknya ada 'surga aman' atau 'safe heaven' bagi para investor global, yaitu di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Tetapi kini, semua pasar modal rontok. Semua investor panik.

Karena itu, seluruh pengamat ekonomi dunia sepakat bahwa Guncangan ekonomi akibat badai keuangan yang melanda Amerika merupakan guncangan yang terparah setelah Great Depresion pada tahun 1930. Bahkan IMF menilai guncangan sektor finansial kali ini merupakan yang terparah sejak era 1930-an.

Robert Gilpin, pengamat ekonomi politik Amerika menegasikan bahwa kapitalisme global bukan sekedar berfungsi bagi diri pemegang kapital tetapi juga bagaimana dalam berfungsi, sistem itu juga memberikan tempat yang layak bagi negara-negara dan terlebih bagi kawula negara-negara yang secara ekonomis lemah. Giplin menjelaskan bagaimana bahaya ancaman dari sistem kapitalisme-neoliberal saat tidak sesuai dengan negara-negara yang secara ekonomi lemah.

Melihat krisis Asia dan Eropa, terlihat secara nyata bagaimana kendali sistem kapitalisme-neoliberal merusak semua sendi perekonomian dunia. Tidak hanya melihat bagaimana dampaknya terhadap negara-negara berekonomi lemah, bahkan negara yang kuat pun di segi ekonomi tetap mengalami dan merasakan dampak yang sangat merugikan.

Terus Terjadi
Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sejenis ini pernah melanda di hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Krisis demi krisis ekonomi terus berulang, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, 1998 – 2001, dan 2007 hingga saat ini krisis semakin mengkhawatirkan akibat tragedi finansial di Amerika Serikat.

Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time of Present Day, menguraikan sejarah kronologi secara komprehensif. Menurut mereka, sepanjang abad 20 telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan bahwa secara rata-rata, setiap 5 tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.

Pada tahun 1907 krisis perbankan Internasional dimulai di New York, setelah beberapa dekade sebelumnya yakni mulai tahun 1860-1921 terjadi peningkatan hebat jumlah bank di Amerika s/d 19 kali lipat. Selanjutnya, tahun 1920 terjadi depresi ekonomi di Jepang. Kemudian pada tahun 1922 – 1923 German mengalami krisis dengan hyper inflasi yang tinggi. Karena takut mata uang menurun nilainya, gaji dibayar sampai dua kali dalam sehari. Selanjutnya, pada tahun 1927 krisis keuangan melanda Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan.

Bukti-bukti di atas secara gamblang menjelaskan bagaimana kenyataan kegagalan sistem kapitalisme-neoliberal jika digunakan. Apapu negaranya sistem ini tak dapat memberikan suasana segar bagi perekonomian dunia. Kapitalisme-neliberal mengedepankan individualisme dan kompetisi yang ganas.

Muh Fitrah Yunus
Peneliti Institute for Global Justice_IGJ